Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (ayat 2) Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (ayat 3)
Permulaan ayat dua surat Ath-Thalaaq membahas tatacara rujuk dan cerai.
Firman Allah Ta’ala, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” Maksudnya, barang siapa bertakwa kepada Allah dalam seluruh perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya, maka Dia akan membuatkan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tidak diduga-duga. Yakni, dari arah yang tidak pernah terbersit dalam hatinya. [1]
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Dzarr yang mengatakan: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam pernah membaca ayat ini, ‘Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya,’ kepadaku sampai selesai, dan kemudian beliau bersabda: “Wahai Abu Dzarr, seandainya saja umat manusia ini secara keseluruhan berpegang teguh kepadanya (ayat ini), niscaya hal itu cukup bagi mereka.” [1]
Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari Syittir ibnu Syakkal yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Mas’ud mengatakan bahwa ayat yang paling besar mengandung jalan keluar dalam al-Quran adalah firman Allah Ta’ala, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” [2]
Sungguh indah ajaran Islam. Lazimnya, jika kita meminta nasihat ke para ahli maka mereka hanya akan bilang lakukan ini dan itu tanpa meminta kita untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala. Namun, dalam ajaran Islam, saat kita ditimpa masalah dan musibah, kita justru diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala. Bertakwa berarti menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangannya. Takwa mempunyai manfaat lain yakni membuat kita berpikir jernih dalam menghadapi masalah. Ini juga berarti, dalam menghadapi suatu kesulitan kita diperintahkan untuk bergantung kepada Allah Ta’ala sedangkan usaha/ikhtiar yang kita lakukan hanyalah perantara saja.
Tips dari saya: jauhi maksiat dan perbanyak amal shalih niscaya solusi akan datang dengan sendirinya.
Wallaahua’lam.
Silakan dibagi dan disebarluaskan.
Ketik ISLAM lalu kirim SMS ke 0812 3704 6304 maka kami akan mengirimkan artikel lain secara ACAK melalui SMS, gratis! Bisa jadi ini akan menyenangkan.
Daftar pustaka:
[1] Tafsir Ibnu Katsir Jilid 8 (2005). Penerjemah: M. Abdul Ghoffar E.M., Abu Ihsan al-Atsari. Pustaka Imam asy-Syafi’i, Bogor.
[2] Tafsir Ibnu Katsir Juz 28 al-Mujadilah 1 s.d. at-Tahrim 12 (2004). Penerjemah: Bahrun Abu Bakar, L.C. Sinar Baru Algesindo, Bandung.

No comments:
Post a Comment